Nama : Alin Nuraeni Dewi
Nim : 2108090021
Kelas : 2A
MK : Pembelajaran Menulis
Prodi : Bahasa dan Sastra Indonesia
MENULIS CERPEN
PENGERTIAN CERPEN
Menurut Jassin (1983:71) cerita pendek adalah cerita yang pendek atau singkat sehingga pengarang hanya mengambil sarinya saja. Pengarang tidak dapat disuruh bercerita dengan sesuka hatinya. Oleh karena itu , kejadian-kejadian pun perlu diberi perhatian secara khusus atau perlu dibatasi supaya cerita tidak terlalu panjang .Cerita pendek harus lebih padu daripada roman atau novel. Sudjiman (1990:15-16) menyatakan bahwa “cerita pendek adalah kisahan (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan. Cerita pendek hanya memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada satu ketika. Santosa (1996) menyatakan bahwa “cerita pendek adalah ragam cerita rekaan yang memiliki ciri-ciri :
1. Kisahan yang member kesan tunggal dan dominan tentang satu tokoh , satu latar, dan satu situasi dramatic;
2. Bentuknya sederhana karena kurang dari 10.000 kata;
3. Berisi satu ide pusat dan tidak diberi kesempatan memunculkan ide sampingan;
4. Dimensi ruang dan waktu lebih sempit bila dibandingkan dengan novel atau roman;
5. Hanya menceritakan satu kejadian atau satu peristiwa yang paling menarik sehingga dapat emnimbulkan kesan impresif; dan
6. Memperlihatkan kepaduan dari berbagai unsure yang membentuknya.
Hasamuddin (2004:158-159) menyatakan bahwa “cerita pendek dalam bahasa inggris disebut short story, dan dalam bahasa Perancis disebut nouvelle atau conte.Lebih dikenal dan lazim disebut dengan cerpen, yaitu cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada satu saat, sehingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari cerita tersebut”. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:210) cerita pendek termasuk ragam bahasa sastra , yaitu “kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika)”.
Jadi berdasarkan uraian diatas pengertian cerpen adalah; cerita singkat yang kurang dari 10000 kata dan hanya memusatkan diri pada satu tokoh dengan dimensi ruang yang lebih sempit dibandingkan dengan novel atau roman.
CIRI-CIRI CERPEN
1. Bercerita tentang manusia atau sesuatu yang dimanusiakan
2. Menyajikan satu (tunggal) peristiwa lampau, sekarang atau yang akan datang.
3. Jumlah tokoh yang ditampilkan satu atau paling banyak 3 orang
4. Kurun waktu peristiwa sangat terbatas
5. Pada umumnya karya dipublikasikan di media masa sebelum diterbitkan dalam bentuk kumpulan cerpen
6. Bahasanya mudah dipahami, dengan demikian cerpen tersebut dapat dibaca kurang dari satu jam dan isinya tidak terlupakan oleh pembacanya sepanjang waktu.
7. Ceritanya pendek yaitu antara 500 hingga 10.000 kata
UNSUR-UNSUR CERPEN
Unsur-unsur yang terdapat pada cerpen ada 2, yaitu :
a. Unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik adalah unsur yang mendukung dari dalam tubuh cerita tersebut.
Bagian-bagian unsur interinsik antara lain :
1. Tema :
Yaitu gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.
2. Amanat :
Yaitu pesan atau amanat yang ingin di sampaikan pengarang dalam bentuk tulisan.
3. Alur atau plot :
Yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu atau sambung sinambungnya suatu cerita, dimana tidak hanya menjelaskan kenapa hal itu terjadi, tetapi juga menjelaskan bagaimana hal itu terjadi.
Adapun jenis plot bisa disederhanakan menjadi tiga jenis, yaitu:
a) Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Contohnya: cerpen-cerpen Anton Chekov, pengarang Rusia legendaris, cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam Laki-laki dan Mesiu, cerpen-cerpen Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulannya Kejantanan di Sumbing.
b) Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus tergiang di telinga pembaca. Contoh, cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam, cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob, dan hampir semua cerpen Guy de Maupassant, pengarang Perancis menggunakan plot berbisik.
c) Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut. Contoh: cerpen Krawang-Bekasi milik Gerson Poyk, cerpen Bulan Mati karya R. Siyaranamual, dan cerpen Putu Wijaya berjudul Topeng bisa dimasukkan di sini.
Adapun jika kita melihat sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka, plot tertutup dan cempuran keduanya. Jadi sifat plot ada kalanya:
a) Terbuka. Jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita, di samping masalah dasar persoalan.
b) Tertutup. Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Contoh Godlobnya Danarto.
c) Campuran keduanya.
d) Penokohan :
Yaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan, yang didalamnya ada perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.
Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan sifat batin (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui:
a. Tindakan, ucapan dan pikirannya
b. Tempat tokoh tersebut berada
c. Benda-benda di sekitar tokoh
d. Kesan tokoh lain terhadap dirinya
e. Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang
e) Latar atau setting :
Yaitu segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot cerita, karena latar harus bersatu dengan tema dan plot untuk menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas.
f) Sudut Pandang Pengarang :
Diantara elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek adlaah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pangan ini sangat erat dengan teknik bercerita.
Ada 4 macam sudut pandang dalam bercerita :
1. Sudut pandang dari Yang Maha Kuasa : Pengarang seolah –olah maha tau, pengarang ini menggambarkan semua tingkah laku para tokoh dan juga mengerti apa yang dikerjakan oleh tokoh.
2. Sudut pandang dari Orang pertama : Pengarang menggunakan gaya akudalam bercerita, sipengarang disini tidak tidak mewakili dari pribadinya tetapi seluruh ceritanya itu tergantung pada watak tokoh aku.
3. Sudut pandang dari Orang ketiga atau peninjau : seorang pengarang menggunakan gaya dia dalm bercerita, sudut pandang ini gabungan dari Yang Maha Kuasa dan Aku yang dapat melukiskan jiwa dia tapi tidak dapat melukiskan yang lain.
4. Sudut pandang Objektif : Pengarang bertindak seperti dalam sudut pandang Yang Maha Kuasa, tetapi pengarang tidak sampai menuliskan bathin tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.
g) Gaya Bahasa :
Yaitu cara khas pengungkapan seseorang, hal ini tercermin dalam pengarang memilih kata-kata, tema, dan memandang persoalan. Gaya Bahasa ada 2:
1. Gaya pengarang dalam bercerita
Gaya pengarang dalam bercerita biasanya menggunakan sudut pandang yang sudah dijelaskan didepan tadi.
2. Gaya Bahasa pengarang dalam bercerita.
Gaya bahasa pengarang dalam bercerita diperlukan karena untuk memperkuat daya lukis agar tercapai efek yang dikehendaki. Biasanya pengarang menggunakan kata-kata khusus karena semakin umum istilah yang dipakai, semakin kabur gambaran cerita yang kita sajikan. Sebaliknya semakin khusussemakin hidup lukisan gambaran ceritanya. Makna-makna khusus tersebut terdapat pada bahasa yang menggunakan majas. Gaya bahasa yang sering dipakai dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Gaya Bahasa Perbandingan
Gaya bahasa perbandingan dapat dibagi menjadi 5, yaitu :
1) Majas Perumpamaan/Asosiasi
Yaitu gaya bahasa yang memperbandingkan benda yang satu dengan benda yang lain dengan apa yang dilukiskan. Contoh :
Bibirnya merah bagai buah delima.
Kedua anak itu seperti pinang dibelah dua.
2) Majas Metafora
Yaitu gaya bahasa perbandingan yang singkat dan padat yang dinyatakan secara implisit. Contoh :
Pukul delapan malam dewi malam mulai memancarkan sinarnya.
Si jago merah telah melalap rumah itu.
3) Majas Personifikasi
yaitu gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat seperti manusia. Contoh :
Angin semilir menerpa mukaku.
Pohon nyiur melambai-lambai dipantai.
4) Majas Alegori
Yaitu gaya bahasa perbandingan yang biasa memakai cerita untuk simbol-simbol untuk menyampaikan maksud tertentu. Contoh :
Orang itu bagaikan kancil.
Orang itu termenung seribu satu malam.
5) Majas Pleonasme
yaitu gaya pemakaian bahasa secara berlebih-lebihan. Contoh :
Saya melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.
Walau keadaannya gelap gulita dia masih tetap meneruskan perjalanannya.
b. Gaya Bahasa Pertentangan
Gaya bahasa pertentangan dapat dibagi menjadi3, yaitu :
1. Majas Hiperbola
yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud memberi penekanan. Contoh :
Kini hidupnya benar-benar bermandikan uang.
Air matanya menganak sungai.
2. Majas Litotes
yaitu gaya bahasa pertentangan yang biasa memakai pernyataan untuk memperkecil sesuatu. Contoh :
Terimalah hadiahku yang sederhana ini.
Kalau sampai disana mampirlah kegubukku.
3. Majas Ironi
yaitu gaya bahasa pertentangan yang mengungkapkan pernyataan pertentangan dengan maksud mencemoh. Contoh :
Bagus sekali tulisanmu sampai-sampai aku tidak bisa membacanya.
Rapi benar kamarmu seperti kapal pecah.
Rapi benar kamarmu seperti kapal pecah.
c. Gaya Bahasa Pertautan
Gaya bahasa pertautan dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Majas Sinekdoke
2. Majas Metonimia
yaitu gaya bahasa dengan menggunakan nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan orang atau barang.
Sambil mengisap djarum dalam-dalam dibukanya lembaran-lembaran kompas.
Selain majas-majas yang disebutkan diatas juga ada jenis majas yang lain, misalnya :
a) Majas Eufemisme
Yaitu gaya bahasa yang menggunakan bahasa sebagai pengganti kata lain dengan maksud untuk memperhalus atau menghindari hal-hal tabu. Contoh :
Para TKI ilegal banyak yang diamankan oleh pihak keamanan Malaysia.
b) Majas Alusio
yaitu gaya bahasa yang merujuk pada suatu karya sastra, tokoh, atau suatu peristiwa. Contoh :
Dia sering bersifat kura-kura dalam perahu, sudah tahu tapi masih saja bertanya.
c) Majas Repetisi
yaitu gaya bahasa dengan melakukan pengulangan kata atau kelompok kata. Contoh :
Mengapa harus putus asa? Aku masih muda dan kuat! Mengapa harus putus asa? Mengapa harus putus asa?
d) Majas Klimaks
yaitu gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan. Contoh :
Jangankan uang, rumah, harta kekayaan, nyawa pun akan kukorbankan demi kebaikan keluarga.
Sejak lahir, bayi, balita, remaja ibunya sendiri yang mengasuhnya.
b. Unsur Ekstrinsik
Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang mendukung dari luar cerita tersebut. Contoh unsur-unsur ekstrinsik, yaitu :
1. Biografi Pengarang
2. Sosial Budaya
3. Moral
4. Agama
JENIS-JENIS CERPEN
Jenis-jenis cerpen ada 3, yaitu :
1. Cerpen Kedaerahan
2. Cerpen Nasional
3. Cerpen Pop
TUJUAN MENULIS CERITA PENDEK
1. Untuk mengabadikan pengalaman
2. Mencurahkan perasaan dan pikiran
3. Menyalurkan persoalan hidup yang dihadapi oleh manusia seperti persoalan maut, tragedi, cinta, harapan, kekuasaan, loyalitas, makna dan tujuan hidup dan hal –hal yang transendal dalam kehidupan manusia.
CONTOH CERPEN
PERADILAN RAKYAT
Karya Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang me-ngunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. la menatap putranya dari kursi rodanya.lalu menjawab dengan suarayang tenang dan agung.
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu.bukan sebagai putraku.tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu.Anda mengerti maksudku."
"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan.Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."
Pengacara muda itu tersenyum. la mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.
"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda.Anda dengan seluruh sejarah kau memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritikAku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Kau sudah tidak memerlukan cencaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna,tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan me-manggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. la tersadar pada ke-keliruannya lalu minta maaf.
"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang
hendak kamu katakan," sambung pengacara tua
menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu,
"Jangan membatasi dirimu sendiri.Jangan mem-bunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."
"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam aari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku.Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir.Tak mungkin semua itu tan pa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun j sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.
Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta per-timbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku.bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. la menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"
Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tap! seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. la menatap,mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.
"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"
"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan.Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng.
"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."
"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."
"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."
Pengacara muda itu tertawa kecil. "Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut.Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengancam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"
"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut."Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. "Berarti ya!"
"Ya.Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"
Orang tua itu terkejut. la merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. la minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."
"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan.juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"
"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang. Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku* sudah sangat rindu kepada dia."
Pengacara muda itu jad! amat terharu. la berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."
Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya.Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."
Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. la memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.
"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan
membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untukterbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu : tertawa terkekeh-kekeh. la merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendakmenggulingkan pemerintahan yangsah.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu.Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"
Sumber: www.kumpulan-cerpen. blogspot.com
URAIAN CONTOH
Dalam cerita pendek tersebut, kita dapat menganalisis unsur intrinsiknya.
1. Tema : Politik
2. Alur dalam cerita adalah alur maju. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kedatangan sang Pengacara Muda kepada Pengacara Tua (ayahnya). Selanjutnya timbul dialog yang terus maju dan timbul konflik antarpemikiran dua generasi.
3. Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen karya Putu Wijaya ini adalah sudut pandang orang ketiga. Pengarang meng-gunakan tokoh nama (orang ketiga), yaitu Pengacara Muda dan PengacararTua.
4. Adapun latar yang ada dalam cerpen tersebut adalah suasana di rumah sang Pengacara Tua. Anda dapat menentukan latar tempat yang sesuai dengan penafsiran Anda sendiri. Latar sosial dalam cerita ini menyangkut keadaan negeri yang carut marut dalam hal keadilan, yaitu korupsi yang merajalela.
5. Gaya bahasa dalam cerpen tersebut, pengarang banyak menggunakan istilah yang berhubungan dengan dunia keadilan. Hal ini menyangkut dunia hukum dan keadilan yang terjadi di suatu negeri.
6. Amanat yang terdapat dalam cerpen tersebut, antara lain bahwa jangan ada kesenj angan pemikiran antara kaum tua dan kaum muda.
7. Tokoh yang ada dalam cerita adalah Pengacara Tua dan Pengacara Muda. Pada awal cerita disebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan ayah-anak.
8. Selanjutnya, kita dapat memahami watak setiap tokoh sesuai dengan apa yang mereka bicarakan.
a. Pengacara Tua: Memiliki sikap yang mau membela keadilan dan kebenaran sesuai dengan hukum. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut.
"... Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-! pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan i gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar, dari buku itu."
la pun memiliki sikap mau mewariskan sikap sewajarnya dalam menghadapi persoalan kepada anaknya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut.
"Jangan membatasi dirimu sendiri.Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."
b. Pengacara Muda: la memiliki watak yang mau belajar dan berani membela kebenaran sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh ayahnya tersebut. Hal ini dibuktikan dengan apa yang dia ucapkan :
"Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."
Pengacara Muda ini pun memihki keteguhan sendiri yang tidak terpengaruh oleh orang lain, bahkan ayahnya sekalipun. la minta bicara dengan ayahnya tersebut dengan memosisikan diri sebagai orang lain, la pun mempunyai sikapp berani mengemukakan melawan arus. la berani bicara dengan pendiriannya sendiri yang berbeda dengan garis pendirian ayahnya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut.
"...Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu.Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."
Selain itu, kaum tua tidak berhak untuk mengungkung pemikiran kaum muda. Tentunya, keadilan di dalam kehidupan harus ditegakkan bagaimana pun adanya.
UNSUR EKSTRINSIK
Adapun unsur luar (ekstrinsik) yang kental dan terdapat dalam cerita tersebut adalah keadaan sosial yang ada saat cerpen tersebut dibuat. Kita dapat memahami keadaan sebuah negeri yang masih banyak kasus pelanggaran hukum. Selain itu, ada juga oknum-oknum penegak hukum yang malah melakukan pelanggaran.
Biografi Pengarang
Sastrawan yang sangat produktif ini bernama I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Ia lahir 11 april 1944 di Tabanan, Bali. Pendidikan formalnya diselesaikan di Fakultas Hukum UGM (1969). Ampir semua jenis karya sastra lahir dari tangannya, seperti cerpen, novel, drama dan esai. Selain itu dia dikenal sebagai penulis skenario tim adal, sutradara teater dan film serta penulis kritik teater dan film.
Berbagai aktivitas seni budaya menjadi bagian hidupnya. Dia juga pernah menggeluti jurnlaistik di Majalah Tempo dan Zaman (1971-1985). Sampai kini, tulisannya masih deras mengalir di berbagai media cetak.
Putu Wijaya termasuk penulis yang kreatif, bahasanya bergaya tegas, penuh semangat dan humoristik, berkali-kali dia memenangi sayembara penulisan novel, drama, cerpen dan esai. Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam antologi Bom (1978), kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Bomb (1987), Es (1980), Gres (1982), Protes (1997), dan Blok (1997)
LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT CERPEN
a) Menentukan ide dalam sebuah tema
b) Mengumpulkan data-data, keterangan, info, dokumen terkait dengan peristiwa, pengalaman yang menjadi sumber inspirasi cerita.
c) Menyusun/ menentukan garis besar/plot cerita secara bersamaan dengantahap ini menciptakan tokoh dan menentukan latar cerita sebagai kerangka karangan
d) Mengumpulkan kosa kata dan gaya bahasa.
e) Menentapkan titik pusat/sudut pandang pengarang
f) Mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita utuh.
g) Memeriksa ejaan, diskusi dan unsur-unsur kebahasaan lain serta memperbaikinya jika terdapat kekeliruan.
REFLEKSI
Cerita pendek (cerpen) merupakan salah satu karya sastra yang mengupas satu peristiwa berupa refleksi kehidupan masyarakat yang terjadi sehari-hari. Menulis cerpen dapat dijadikan alat untuk mengabadikan pengalaman hidup, mencurahkan perasaan dan pikiran serta menyalurkan persoalan hidup yang dihadapi oleh seseorang. Selain bisa dijadikan sebagai salah satu media hiburan, cerpen pun bisa memberikan pelajaran berharga bagi yang membacanya. Hal tersebut dipetik melalui nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh pengarang.
DAFTAR PUSTAKA
Jassin, H. B. 1983. Tyfa Penyair dan Daerahnya (cetakan ke enam. Cetakan pertama. 1952).
Kusumah Encep, dkk. 2007. Menulis 2. Jakarta: Universitas terbuka
Santosa Puji. 1996. Pengetahuan dan Apresiasi Sastra
Sudjiman Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra
W. S. Hasamuddin. 2004. Ensiklopedi Satra Indonesia